Review The Worst Witch: Serial Penyihir Cilik yang Menghibur
![]() |
| The Worst Witch (Roku.com) |
TEGAMENS - The Worst Witch adalah salah satu serial televisi fantasi anak-anak yang berhasil memikat hati penonton di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Diadaptasi dari seri novel klasik karya Jill Murphy yang pertama kali terbit pada tahun 1974, serial ini menghadirkan dunia sihir yang segar, ringan, dan penuh dengan pelajaran hidup. Bagi Anda yang mencari tontonan keluarga dengan sentuhan magis namun tidak sekompleks Harry Potter, The Worst Witch bisa menjadi pilihan yang tepat. Artikel ini akan mengupas tuntas serial yang tayang di CBBC dan Netflix dari tahun 2017 hingga 2020 ini.
Sinopsis dan Premis Cerita
Serial The Worst Witch mengikuti petualangan seorang gadis muda bernama Mildred Hubble, yang diperankan oleh Bella Ramsey di tiga musim pertama dan kemudian digantikan oleh Lydia Page di musim keempat. Mildred adalah seorang gadis biasa yang hidupnya berubah drastis ketika suatu hari Maud Spellbody, seorang siswi penyihir, menabrakkan sapu terbangnya ke balkon rumah Mildred. Maud kemudian memperkenalkan Mildred ke Akademi Cackle—sekolah untuk penyihir muda yang terletak tinggi di puncak gunung.
Di Akademi Cackle, Mildred bergabung dengan para siswi penyihir lainnya untuk belajar berbagai ilmu sihir. Namun, ada satu masalah besar: Mildred adalah penyihir yang sangat ceroboh dan sering mengalami kegagalan dalam setiap mantra yang dicobanya. Julukan "The Worst Witch" atau "penyihir terburuk" pun melekat padanya. Meskipun demikian, Mildred tidak pernah menyerah. Dengan semangat pantang menyerah dan dukungan dari sahabat-sahabatnya, ia terus berusaha menjadi penyihir yang lebih baik.
Perjalanan Empat Musim yang Menghibur
Serial ini berhasil bertahan selama empat musim dengan total 52 episode yang masing-masing berdurasi sekitar 30 menit. Musim pertama tayang pada 11 Januari 2017 dan musim keempat berakhir pada 20 April 2020. Setiap musimnya menghadirkan petualangan baru yang seru, mulai dari persaingan antar siswi, ujian sihir, hingga ancaman dari kekuatan jahat yang mengincar Akademi Cackle.
Di Indonesia, serial ini mendapatkan perhatian cukup besar. The Worst Witch sempat tayang di NET TV mulai 30 Mei 2020, setiap Sabtu dan Minggu pada pukul 18.00 WIB. Selain itu, musim keempat serial ini juga dirilis di Netflix pada 1 Oktober 2020. Ketersediaan di berbagai platform ini membuat The Worst Witch mudah diakses oleh penonton Tanah Air.
Karakter-Karakter yang Berkesan
Salah satu kekuatan utama The Worst Witch terletak pada karakternya yang kuat dan mudah diingat. Mildred Hubble sebagai tokoh utama adalah sosok yang sangat relatable—ia tidak sempurna, sering membuat kesalahan, tetapi memiliki hati yang baik dan selalu berusaha melakukan hal yang benar.
Bella Ramsey, yang kini dikenal luas melalui perannya sebagai Ellie di The Last of Us dan Lyanna Mormont di Game of Thrones, memerankan Mildred dengan sangat memukau. Ramsey berhasil menghidupkan karakter Mildred dengan segala kecanggungan dan ketulusannya. Pada tahun 2019, penampilannya di The Worst Witch bahkan membawanya meraih penghargaan BAFTA dalam kategori Best Young Performer.
Selain Mildred, ada tokoh-tokoh pendukung yang tak kalah menarik. Maud Spellbody (Meibh Campbell) adalah sahabat setia Mildred yang selalu mendukungnya. Ethel Hallow adalah rival utama Mildred—siswi sombong yang selalu berusaha menjatuhkan Mildred. Miss Hardbroom (Raquel Cassidy) adalah guru sihir yang tegas dan disiplin, sementara Miss Cackle (Clare Higgins) adalah kepala sekolah yang bijaksana dan penyayang.
Perbandingan dengan Harry Potter
Tak bisa dipungkiri, banyak yang membandingkan The Worst Witch dengan Harry Potter. Keduanya sama-sama berlatar di sekolah sihir, memiliki tokoh utama yang merasa tidak cocok di dunia sihir, dan diadaptasi dari novel anak-anak. Namun, ada perbedaan mendasar yang membuat The Worst Witch memiliki identitasnya sendiri.
The Worst Witch terbit jauh lebih dulu—novel pertama Jill Murphy terbit pada 1974, sementara Harry Potter baru muncul pada 1997. Bahkan, beberapa kalangan menyebut bahwa The Worst Witch telah menjadi inspirasi bagi cerita-cerita sekolah sihir yang datang setelahnya. Jika Harry Potter menghadirkan dunia sihir yang epik dengan konflik besar melawan kejahatan, The Worst Witch lebih fokus pada keseharian di sekolah sihir dengan konflik yang lebih ringan dan relatable bagi anak-anak.
Nilai-Nilai Positif dalam Cerita
The Worst Witch bukan sekadar tontonan menghibur—serial ini juga sarat dengan pesan moral yang berharga. Tema utama yang diangkat adalah tentang penerimaan diri dan pentingnya kegigihan. Mildred mengajarkan bahwa kegagalan bukanlah akhir dari segalanya. Justru dari kegagalan itulah seseorang bisa belajar dan tumbuh menjadi lebih baik.
Persahabatan juga menjadi tema sentral dalam serial ini. Mildred, Maud, dan teman-teman lainnya saling mendukung dalam suka dan duka. Mereka membuktikan bahwa memiliki sahabat sejati adalah kekuatan terbesar yang bisa dimiliki seorang penyihir cilik. Serial ini juga menyentuh isu tentang inklusivitas dengan menghadirkan pemeran yang beragam.
Aspek Produksi dan Visual
Secara produksi, The Worst Witch menawarkan kualitas yang cukup baik untuk sebuah serial anak-anak. Lokasi syuting di Inggris dan Jerman memberikan latar yang autentik untuk Akademi Cackle. Efek visual untuk adegan-adegan sihir dikerjakan dengan cukup apik, meskipun tidak semewah produksi Hollywood. Musik latar yang digubah oleh Mark Russell berhasil menciptakan suasana magis yang khas.
Serial ini merupakan produksi internasional antara CBBC Productions (Inggris) dan ZDF (Jerman), dengan Netflix sebagai distributor internasional. Kolaborasi ini memungkinkan The Worst Witch menjangkau audiens global, termasuk Indonesia.
Mengapa The Worst Witch Layak Ditonton?
Bagi penonton dewasa yang mencari tontonan nostalgia atau sekadar hiburan ringan, The Worst Witch menawarkan pengalaman menonton yang menyenangkan. Ceritanya yang ringan namun tetap bermakna membuat serial ini cocok ditonton bersama keluarga. Bagi anak-anak, serial ini menjadi pengenalan yang sempurna ke dunia fantasi sebelum mereka beralih ke cerita yang lebih kompleks seperti Harry Potter.
Keberadaan The Worst Witch di Netflix dengan dukungan audio Bahasa Indonesia menjadi nilai tambah bagi penonton Tanah Air. Anda bisa menontonnya kapan saja dan di mana saja tanpa perlu khawatir tentang konten yang tidak sesuai untuk anak-anak.
Kekurangan yang Perlu Diketahui
Tentu saja, tidak ada serial yang sempurna. Beberapa kritik menyebut bahwa alur cerita The Worst Witch terkadang terasa terlalu sederhana dan dapat diprediksi. Karakter Mildred yang selalu ceroboh juga bisa terasa repetitif bagi sebagian penonton. Namun, bagi target audiens utamanya yaitu anak-anak usia 7 tahun ke atas, kesederhanaan ini justru menjadi nilai tambah karena mudah dicerna dan dipahami.
Nasib Musim Kelima
Bagi penggemar yang berharap melihat kelanjutan petualangan Mildred, kabar yang ada kurang menggembirakan. Musim kelima The Worst Witch dipastikan tidak akan terjadi. Penyebab utamanya adalah dampak pandemi Covid-19 yang mengganggu proses produksi, serta para pemain yang sudah terlalu tua untuk kembali memerankan karakter mereka. Meskipun musim keempat ditutup dengan Mildred menjadi Head Girl dan berdamai dengan Ethel—meninggalkan potensi cerita yang menarik untuk musim berikutnya—kenyataan pahit harus diterima bahwa serial ini telah berakhir.
Kesimpulan
The Worst Witch adalah serial yang berhasil menghadirkan dunia sihir dengan cara yang segar, ringan, dan menghibur. Dengan karakter utama yang relatable, pesan moral yang kuat, dan cerita yang cocok untuk semua usia, serial ini layak mendapatkan tempat di hati para pecinta cerita fantasi. Meskipun sering dibandingkan dengan Harry Potter, The Worst Witch memiliki pesonanya sendiri yang tidak kalah menarik.
Bagi Anda yang belum pernah menontonnya, tidak ada salahnya untuk memberikan kesempatan pada Mildred Hubble dan petualangannya di Akademi Cackle. Siapa tahu, Anda justru akan jatuh cinta pada penyihir cilik yang ceroboh namun penuh semangat ini. The Worst Witch membuktikan bahwa menjadi "yang terburuk" sekalipun bukanlah akhir dari segalanya—selama kita tetap berusaha dan tidak pernah menyerah, keajaiban selalu mungkin terjadi.
