Panduan Lengkap Aplikasi Grab: Fitur, Keuangan, dan Inovasi 2026

Daftar Isi

Grab
Grab (grab.com)

TEGAMENS - Grab tidak lagi sekadar aplikasi pemesanan transportasi dan makanan. Pada ajang GrabX 2026 yang digelar di Jakarta pada 8 April 2026, perusahaan memperkenalkan 13 fitur baru berbasis kecerdasan buatan yang menandai pergeseran fundamental dalam evolusi platformnya. Chief Product Officer Grab, Philipp Kandal, menegaskan bahwa Grab kini bertransformasi menjadi "Everyday Guide"—sebuah panduan harian yang menangani tugas-tugas manual penggunanya agar mereka dapat lebih fokus menjalani aktivitas sehari-hari. Dari membantu pengguna memilih menu makan siang, mengatur perjalanan lintas negara, hingga memberdayakan mitra pengemudi dan pelaku usaha kecil, Grab membangun ekosistem yang semakin terintegrasi dan personal. Artikel ini mengupas tuntas perjalanan Grab sebagai superapp terdepan di Asia Tenggara, mencakup kinerja keuangan terbaru, inovasi AI yang mengubah pengalaman pengguna, strategi ekspansi, serta posisinya dalam persaingan industri ride-hailing dan food delivery di Indonesia dan kawasan.

Kinerja Keuangan yang Mengesankan

Tahun 2025 menjadi tonggak bersejarah bagi Grab. Untuk pertama kalinya sejak berdiri, perusahaan berhasil membukukan laba setahun penuh sebesar US$200 juta atau sekitar Rp3,36 triliun, berbalik dari kerugian US$158 juta pada tahun sebelumnya. Pendapatan tahunan tumbuh 20 persen secara tahunan menjadi US$3,37 miliar atau sekitar Rp56,62 triliun. Sementara itu, EBITDA yang disesuaikan melonjak 60 persen menjadi US$500 juta, dengan arus kas bebas yang disesuaikan mencapai 58 persen dari total EBITDA tersebut. CEO dan co-founder Grab, Anthony Tan, mengungkapkan bahwa platform ini telah melampaui 50 juta pengguna aktif bulanan yang bertransaksi selama kuartal IV 2025, menutup tahun dengan kinerja yang disebutnya sebagai rekor.

Dari sisi segmentasi, layanan pengantaran (deliveries) seperti GrabFood dan GrabExpress tetap menjadi penyumbang pendapatan terbesar dengan US$1,8 miliar sepanjang tahun, tumbuh 21 persen secara tahunan. Layanan mobilitas (mobility) seperti GrabCar dan GrabBike mencatatkan pendapatan US$1,22 miliar dengan pertumbuhan 16 persen, dan tetap menjadi segmen paling menguntungkan dengan EBITDA yang disesuaikan sebesar US$690 juta. Adapun layanan keuangan (financial services) menjadi segmen dengan pertumbuhan tercepat, dengan pendapatan yang naik 37 persen menjadi US$347 juta, didorong oleh ekspansi pembiayaan di mana portofolio pinjaman melonjak lebih dari dua kali lipat.

Dari perspektif geografis, Malaysia tetap menjadi pasar terbesar Grab pada tahun 2025 dengan pendapatan mencapai US$1,04 miliar, menjadikannya satu-satunya pasar yang melampaui angka US$1 miliar. Pasar utama lainnya meliputi Singapura dengan US$727 juta, Indonesia dengan US$715 juta, Filipina dengan US$316 juta, serta Thailand dan Vietnam masing-masing sebesar US$288 juta dan US$255 juta. Untuk tahun 2026, Grab menargetkan pendapatan antara US$4,04 miliar hingga US$4,10 miliar, yang mencerminkan pertumbuhan 20 hingga 22 persen, dengan proyeksi EBITDA yang disesuaikan sebesar US$700 hingga US$720 juta.

Revolusi AI dalam Genggaman

Jauh sebelum tren AI menjadi arus utama, Grab telah menjadikan kecerdasan buatan sebagai fondasi operasional bisnisnya. Hingga awal 2026, perusahaan mengoperasikan lebih dari 1.000 model AI dan machine learning yang aktif digunakan di seluruh ekosistemnya. Langkah radikal ini dimulai pada 2024 ketika Grab menghentikan sementara pengembangan fitur baru selama sembilan minggu agar seluruh tim teknologi dapat fokus mengintegrasikan generative AI secara menyeluruh dan berskala besar. Filosofi yang diusung adalah “AI-First with Heart”, menempatkan teknologi sebagai penguat kemampuan manusia, bukan pengganti. Pendekatan ini ditegaskan dalam forum Grab AI DevX Connect 2026 yang digelar di Jakarta pada Januari 2026, yang mempertemukan para engineer, pemimpin produk, praktisi data, dan pengembang AI lintas industri untuk berbagi praktik nyata penerapan AI yang berorientasi pada manusia.

Pada GrabX 2026, perusahaan memperkenalkan 13 fitur baru yang dibangun di atas fondasi Grab Intelligence Layer, infrastruktur AI yang dikembangkan dari lebih dari 20 miliar data perjalanan dan pesanan di platform Grab. Teknologi ini memungkinkan sistem memahami kondisi lapangan secara real-time, termasuk pola lalu lintas, cuaca, hingga aktivitas merchant, sehingga dapat memberikan rekomendasi dan otomatisasi yang lebih akurat. Grab tidak membangun teknologi AI dari nol, melainkan bekerja sama dengan berbagai pengembang model global seperti OpenAI, yang kemudian disesuaikan dengan kebutuhan pengguna di Asia Tenggara—mencakup penggunaan bahasa, kebiasaan pengguna, hingga kondisi di lapangan.

Salah satu fitur unggulan adalah Group Ride yang memungkinkan hingga empat pengguna berbagi satu kendaraan dengan penjemputan terkoordinasi dan pembagian biaya otomatis. Sistem AI Grab menghitung tarif setiap penumpang berdasarkan jarak tempuh, kondisi lalu lintas, serta durasi perjalanan, sehingga pengguna dapat menghemat hingga 40 persen dibandingkan perjalanan sendiri. Fitur Grab More hadir untuk menjawab kebutuhan pengguna yang ingin memesan makanan dari beberapa restoran sekaligus dalam satu pengiriman tanpa biaya tambahan. AI memastikan semua pesanan tiba bersamaan, mengatasi masalah umum dalam pesanan kelompok atau rumah tangga. Grab AI Assistant, yang juga disebut sebagai "Coach", berfungsi sebagai asisten pribadi dalam aplikasi. Fitur ini membantu pengguna merencanakan makanan, memesan restoran, hingga membuat daftar belanja dari foto, catatan suara, atau daftar teks, dengan memahami kebiasaan pengguna berdasarkan riwayat pemesanan dan langsung memberikan rekomendasi yang dipersonalisasi.

Di sektor mobilitas, GrabMaps for Consumers mendapatkan peningkatan besar dengan fitur seperti navigasi dalam ruangan, lokasi charger kendaraan listrik, ketersediaan parkir, serta perencana perjalanan yang terintegrasi dengan jadwal pengguna. Fitur ini tidak hanya membantu menemukan rute, tetapi juga menentukan waktu berangkat, membandingkan opsi transportasi, hingga memberikan informasi real-time tentang fasilitas di sekitar. Untuk kebutuhan perjalanan lintas negara, Grab menghadirkan Personalized Travel Experience yang mengintegrasikan berbagai informasi perjalanan dalam satu tampilan, mulai dari pengingat paspor, informasi gate dan terminal, hingga panduan navigasi di dalam bandara. GrabStays, yang dikembangkan bersama mitra hotel, menghadirkan layanan pemesanan hotel dalam aplikasi dengan tarif hari yang sama dan integrasi imbalan loyalitas. Discover by Grab memberikan rekomendasi restoran yang dipersonalisasi berdasarkan preferensi pengguna dan ulasan komunitas, memungkinkan pengguna untuk memesan, memesan transportasi, hingga melakukan pembayaran dalam satu alur.

Yang tidak kalah penting, Grab menghadirkan Cash Loan, layanan pinjaman mikro berbasis AI yang memberikan akses cepat ke kredit bagi pengguna yang memenuhi syarat, dengan proses pengajuan yang lebih sederhana tanpa perlu banyak dokumen. Fitur ini akan diluncurkan terlebih dahulu di Filipina, diikuti Thailand dan Malaysia pada pertengahan 2026, dan direncanakan hadir di Indonesia pada kuartal III 2026. Di sisi pembayaran lintas negara, GrabPay for Travel memungkinkan pengguna memindai kode QR nasional di berbagai negara Asia Tenggara dan membayar menggunakan kartu yang tersimpan di aplikasi, menghilangkan kebutuhan akan dompet elektronik terpisah atau saldo mata uang asing.

Pemberdayaan Mitra: Dari Pengemudi hingga Pelaku Usaha

Inovasi AI Grab tidak hanya berfokus pada konsumen. Dalam presentasinya di GrabX 2026, Anthony Tan memperkenalkan asisten berbasis AI untuk pengemudi yang disebut sebagai “Coach”. Asisten pintar ini dirancang untuk memberikan panduan secara real-time, mulai dari rekomendasi lokasi dengan permintaan tinggi, waktu operasional yang optimal, hingga membantu pengemudi mengambil keputusan yang dapat meningkatkan produktivitas. Grab mengklaim bahwa teknologi ini telah digunakan oleh lebih dari 500.000 mitra pengemudi dan akan terus diperluas ke jutaan mitra lain. Coach bukan sekadar alat, melainkan pendamping cerdas yang membantu pengemudi meningkatkan pendapatan serta menangani tugas-tugas mereka agar tetap fokus di jalan. Dengan kemampuan memahami pola permintaan, cuaca, dan kondisi lalu lintas secara real-time, Coach membantu pengemudi bekerja lebih efisien dan menghasilkan pendapatan yang lebih optimal.

Bagi mitra usaha, Grab memperkenalkan Virtual Store Manager yang menggunakan AI dan computer vision melalui sistem CCTV yang sudah ada untuk memantau jam operasional toko, kebersihan, kehadiran staf, dan lalu lintas pelanggan, serta menghasilkan peringatan dan wawasan kinerja secara otomatis. Fitur Cloud Printer mengotomatiskan pemrosesan pesanan antara platform dan dapur merchant, mengurangi kesalahan manual dan mempercepat waktu penyajian. Inovasi-inovasi ini mencerminkan komitmen Grab untuk tidak hanya menjadi platform transaksional, tetapi juga mitra pertumbuhan bagi jutaan pelaku usaha kecil dan menengah di seluruh Asia Tenggara. Kehadiran Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dan Menteri UMKM Maman Abdurrahman dalam acara GrabX 2026 menegaskan dukungan pemerintah Indonesia terhadap inovasi yang memberdayakan sektor usaha mikro, kecil, dan menengah.

Ekspansi Lintas Batas dan Strategi Pasar

Langkah besar Grab pada tahun 2026 juga terlihat dari ekspansi layanan lintas batas. Pada 30 April 2026, Grab menjadi operator pertama yang menerima Cross-Border Ride-Hail Service Operator Licence (CRSOL) di bawah skema Cross-Border Taxi yang ditingkatkan, yang diumumkan bersama oleh Kementerian Transportasi Singapura dan Kementerian Transportasi Malaysia. Lisensi ini memungkinkan Grab menyediakan layanan pemesanan taksi lintas batas melalui aplikasinya. Sejalan dengan ini, Grab meluncurkan layanan percontohan Cross-Border SG-JB (Beta) yang memungkinkan pemesanan perjalanan door-to-door antara Singapura dan wilayah Johor Bahru, Iskandar Puteri, Forest City, Kulai, dan Senai di Malaysia. Penumpang dari kedua kota dapat melakukan pemesanan di muka melalui aplikasi Grab dalam jangka waktu 12 jam hingga tujuh hari sebelumnya. Layanan ini akan diluncurkan secara bertahap mulai 4 Mei 2026, dan Grab akan memperluas serta menyempurnakan layanan seiring dengan bertambahnya jumlah taksi lintas batas berlisensi.

President dan COO Grab, Alex Hungate, menyatakan bahwa setiap hari ratusan ribu komuter melintasi perbatasan untuk bekerja, bisnis, dan rekreasi, dan permintaan akan lebih banyak opsi transportasi terus meningkat, terutama bagi mereka yang bepergian dalam kelompok. Grab merasa terhormat dapat bermitra dengan pemerintah kedua negara dalam visi mereka untuk meningkatkan konektivitas lintas batas. Fitur utama dari layanan ini mencakup layanan door-to-door dari lokasi mana pun di Singapura ke lokasi mana pun dalam wilayah operasi lintas batas Malaysia, memberikan kenyamanan dan keandalan yang belum pernah ada sebelumnya bagi para pelintas batas di salah satu penyeberangan darat tersibuk di dunia.

Dari sisi strategi pemasaran, Grab menerapkan pendekatan yang terukur dan kontekstual. Di Indonesia, GrabFood meluncurkan kampanye "GrabFood Ongkir Pamungkas" yang menggandeng legenda sepak bola nasional Bambang Pamungkas. Kampanye ini menyoroti biaya pengiriman terendah GrabFood, yaitu hanya Rp2.000 untuk layanan dalam radius 5 kilometer. Head of Marketing GrabFood, Omni, dan GrabMart, Priyo Wisaksono, menjelaskan bahwa sementara banyak pemain di pasar berfokus pada penawaran harga rendah, Grab memilih untuk mengaitkan layanannya dengan konsep "ultimate" atau "pamungkas" yang melekat pada figur Bambang Pamungkas, sehingga secara efektif menampilkan klaim biaya pengiriman terendah mereka. Kampanye ini dieksekusi melalui pendekatan multimedia yang ekstensif, mencakup iklan digital, penempatan di luar ruangan, promosi dalam aplikasi, dan aktivasi media sosial.

Di Thailand, Grab mengumumkan strategi "Winning with Purpose Together" yang bertumpu pada tiga pilar: Winning Business Growth, Winning Sustainable Impact, dan Winning with National Priorities. Perusahaan melanjutkan Barbell Strategy 2.0, menyeimbangkan penawaran yang didorong oleh nilai untuk pasar massal dengan layanan berkualitas tinggi untuk segmen premium. Hasilnya, layanan GrabCar SAVER dan GrabBike SAVER tumbuh lebih dari 250 persen, sementara layanan premium seperti GrabExecutive untuk perjalanan ke bandara tumbuh 90 persen sepanjang tahun 2025. Grab Thailand juga mencatat bahwa pengguna menghemat lebih dari THB6,9 miliar melalui berbagai promosi sepanjang tahun.

Persaingan Sengit di Pasar Indonesia

Indonesia merupakan medan pertempuran utama bagi Grab dan Gojek. Kedua superapp ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan digital masyarakat Indonesia, mulai dari layanan transportasi, pesan-antar makanan, logistik, hingga layanan keuangan. Menurut laporan Momentum Works, di sektor food delivery Indonesia, Grab memimpin dengan pangsa pasar 46 persen berdasarkan nilai transaksi, mengungguli GoFood dengan 31 persen dan ShopeeFood dengan 23 persen. Dominasi ini menunjukkan kekuatan Grab dalam mengintegrasikan layanan makanan ke dalam ekosistem superapp-nya yang lebih luas.

Namun, persaingan di sektor ride-hailing jauh lebih ketat. Data dari berbagai sumber menunjukkan gambaran yang beragam. Sebuah survei menyebutkan bahwa pengguna layanan ride-hailing di Indonesia telah mencapai sekitar 21,7 juta orang, dengan Grab dan Gojek menjadi layanan yang paling sering digunakan, masing-masing dipilih oleh sekitar 21,3 persen dan 19,4 persen responden. Dari perspektif ekonomi platform, Grab mengandalkan kekuatan skala regional sementara GoTo (induk Gojek) bertumpu pada kedalaman penetrasi pasar domestik Indonesia. Grab unggul dalam efisiensi dan profitabilitas lintas negara, sedangkan GoTo unggul dalam dominasi pasar lokal dan kekuatan ekosistem.

Kedua perusahaan kini telah meninggalkan era "bakar uang" dan beralih ke strategi yang lebih berkelanjutan. Grab berhasil mencetak laba bersih untuk pertama kalinya pada tahun 2025, sementara GoTo mencatatkan laba bersih perdana pada kuartal I 2026 setelah sebelumnya mencatat kerugian bersih sebesar Rp367 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Pendapatan bersih GoTo naik 26 persen secara tahunan menjadi Rp5,3 triliun. Kedua perusahaan kini lebih mengandalkan model langganan dan program loyalitas untuk mempertahankan pengguna, menandai babak baru dalam persaingan yang lebih sehat dan berorientasi pada nilai tambah bagi konsumen.

Ekosistem Pembayaran dan Layanan Keuangan

Salah satu keunggulan kompetitif Grab adalah ekosistem pembayaran dan layanan keuangannya yang semakin matang. Di Indonesia, Grab menjalin kemitraan strategis dengan OVO, salah satu platform pembayaran digital terdepan. Kemitraan ini menjadikan OVO sebagai salah satu opsi pembayaran utama di dalam aplikasi Grab, terutama untuk mengisi saldo GrabPay. Integrasi ini memastikan pengguna dapat memanfaatkan dana yang ada di OVO untuk berbagai layanan di Grab tanpa perlu berpindah-pindah aplikasi atau metode pembayaran. Pengguna dapat dengan mudah mengisi saldo GrabPay langsung dari OVO, memberikan fleksibilitas lebih dalam mengelola keuangan digital mereka—memindahkan dana hanya saat dibutuhkan atau mengisi sejumlah tertentu untuk penggunaan jangka pendek.

Lebih dari sekadar dompet digital, Grab terus memperluas layanan keuangannya. Kehadiran Superbank di aplikasi Grab membuka akses ke layanan perbankan digital yang terintegrasi. Superbank tidak akan merger dengan OVO, melainkan berkolaborasi untuk memberikan layanan dan fitur-fitur sektor keuangan terbaik yang bisa digunakan pengguna Grab. Sinergi ini menciptakan ekosistem keuangan yang komprehensif, mulai dari pembayaran sehari-hari, pinjaman mikro, hingga layanan perbankan digital, semuanya dalam satu aplikasi. Layanan keuangan Grab mencatat pertumbuhan pendapatan tercepat di antara semua segmen, dengan kenaikan 37 persen pada tahun 2025, menegaskan potensi besar dari integrasi layanan keuangan dalam superapp.

Menatap Masa Depan

Grab telah menetapkan arah yang jelas untuk tahun-tahun mendatang. Dengan proyeksi pendapatan US$4,04 miliar hingga US$4,10 miliar pada tahun 2026 dan target EBITDA yang disesuaikan sebesar US$700 hingga US$720 juta, perusahaan berada pada lintasan pertumbuhan yang solid. Lebih ambisius lagi, Grab menargetkan EBITDA yang disesuaikan mencapai US$1,5 miliar pada tahun 2028. Anthony Tan menegaskan bahwa perusahaan akan mengeksekusi strategi multi-tahun yang berfokus pada perluasan pasar yang dapat digarap melalui peningkatan keterjangkauan dan keandalan, serta memanfaatkan inovasi berbasis produk untuk memperdalam keterlibatan ekosistem dan memperluas lifetime value pengguna.

Transformasi Grab dari aplikasi ride-hailing menjadi panduan cerdas sehari-hari mencerminkan visi yang lebih besar: menjadi lapisan kecerdasan yang menyatukan berbagai aspek kehidupan digital pengguna di Asia Tenggara. Dengan lebih dari 50 juta pengguna aktif bulanan, lebih dari 1.000 model AI yang beroperasi, dan ekosistem yang mencakup transportasi, pengantaran makanan, logistik, pembayaran, pinjaman, perjalanan, hingga perbankan digital, Grab tidak lagi sekadar superapp—ia adalah infrastruktur digital yang menopang kehidupan sehari-hari jutaan orang di kawasan ini. Inovasi yang diperkenalkan di GrabX 2026 hanyalah babak awal dari perjalanan panjang menuju visi tersebut. Dengan fondasi AI yang kokoh, strategi pertumbuhan yang terukur, dan komitmen untuk memberdayakan mitra pengemudi serta pelaku usaha kecil, Grab berada pada posisi yang kuat untuk terus memimpin dan membentuk masa depan ekonomi digital Asia Tenggara.